Thursday, January 29, 2015

Sekolah dan Belajar


Hari ini saya berdebat panjang di ruang guru, kami meminta izin untuk mengikuti turnamen futsal, poli, dan basket. Tetapi guru-guru yang kami cintai melarang dengan alasan bahwa kami sudah kelas 3 dan sebentar lagi menghadapi UN.

“Sekolah bukan sekedar Ujian Nasional, tetapi lebih dari itu!”-M Ikhwan Al-Ayyubi


Kami berdebat cukup alot dan panas, kami beralasan bahwa ini adalah event terakhir kami sebelum berjuang menghadapi UN nanti. Tetapi guru pun tak mau kalah, mereka beralasan bahwa guru sangat khawatir jika kami mengikuti turnamen itu. Katanya “Bapak Ibu sangat khawatir, takutnya nanti kalau ada yang cedera bagaimana? Sedangkan 2 bulan lagi kamu menghadapi UN”

Sebelumnya, saya pribadi ingin mengapresiasi itu semua, Bapak dan Ibu guru terima kasih! Saya menghargainya! Saya tahu bahwa guru ingin yang terbaik untuk siswanya.

Tetapi ada kata-kata yang mengganjal hati saya. Dan saya pikir ini pun terjadi di seluruh sekolah yang ada di Indonesia yang melaksanakan UN. Kurang lebihnya seperti ini.
“ Bapak sayang sama kalian, sekarang coba liat raport kalian, coba saja kalau bapak tidak tambahkan nilai kalian. Itu semua agar membantu kalian untuk bisa lulus. Sekarang kalian belajar yang benar, coba hormati  guru. “

Jadi, saya harus tunduk dan taat kepada guru agar saya diberikan imbalan yaitu nilai ajaib di raport? Terimakasih sebelumnya, tetapi kami bukan budak kalian.
Jadi, kasih sayang seorang guru hanya sekedar bagaimana mereka memberikan nilai ajaib di raport ? Terimakasih sebelumnya, tetapi bukankah itu sebuah kecurangan?

Guru ku yang tercinta, apakah itu arti dari kata “sekolah”? Arti dari kata “belajar”? Memang, kita tak akan mungkin lepas dari Ujan Nasional, tetapi berhentilah untuk mengatakan “Sebentar lagi kamu Ujian nak!”. Apakah guru bangga atau merasa telah berhasil mendidik, jika kami sekedar berhasil mengejarkan Ujian Nasional? Apakah guru bangga, jika kami hanya bisa mengerjakan sesuatu yang jawabanya sendiri sudah ada di buku-buku kami?

Guru ku yang tercinta, ajari kami tentang hidup ini. Ajari kami arti “sekolah dan belajar”. Guru, jadilah sosok yang  menginspirasi bagi kami, ajari kami arti kebijaksanaan, tetapi bukan sekedar teori dan penjelasan, melainkan dengan sikap dan perbuatan. Guru, cobalah mengerti apa kekurangan kami, cobalah mengerti keanekaragaman kami, bahwa kami semua tidak sama, salah satu diantara kami memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka dukung kami akan sesuatu yang menjadi passion kami, bantu kami untuk menggapainya. Dan mohon mengerti kekurangan kami.

Guruku yang tercinta, kalian adalah pelopor dan pelangsung sebuah kebaikan.
Jujur saya katakan, saya ingin menjadi seorang guru.

No comments:

Post a Comment