Hari ini saya berdebat panjang di ruang guru, kami meminta
izin untuk mengikuti turnamen futsal, poli, dan basket. Tetapi guru-guru yang
kami cintai melarang dengan alasan bahwa kami sudah kelas 3 dan sebentar lagi
menghadapi UN.
“Sekolah bukan sekedar Ujian
Nasional, tetapi lebih dari itu!”-M Ikhwan Al-Ayyubi
Kami berdebat cukup alot dan panas, kami beralasan bahwa ini
adalah event terakhir kami sebelum berjuang menghadapi UN nanti. Tetapi guru
pun tak mau kalah, mereka beralasan bahwa guru sangat khawatir jika kami mengikuti
turnamen itu. Katanya “Bapak Ibu sangat khawatir, takutnya nanti kalau ada yang
cedera bagaimana? Sedangkan 2 bulan lagi kamu menghadapi UN”
Sebelumnya, saya pribadi ingin mengapresiasi itu semua, Bapak
dan Ibu guru terima kasih! Saya menghargainya! Saya tahu bahwa guru ingin yang
terbaik untuk siswanya.
Tetapi ada kata-kata yang mengganjal hati saya. Dan saya
pikir ini pun terjadi di seluruh sekolah yang ada di Indonesia yang
melaksanakan UN. Kurang lebihnya seperti ini.
“ Bapak sayang sama kalian, sekarang coba liat raport kalian,
coba saja kalau bapak tidak tambahkan nilai kalian. Itu semua agar membantu
kalian untuk bisa lulus. Sekarang kalian belajar yang benar, coba hormati guru. “
Jadi, saya harus tunduk dan taat kepada guru agar saya
diberikan imbalan yaitu nilai ajaib di raport? Terimakasih sebelumnya, tetapi
kami bukan budak kalian.
Jadi, kasih sayang seorang guru hanya sekedar bagaimana
mereka memberikan nilai ajaib di raport ? Terimakasih sebelumnya, tetapi
bukankah itu sebuah kecurangan?
Guru ku yang tercinta, apakah itu arti dari kata “sekolah”?
Arti dari kata “belajar”? Memang, kita tak akan mungkin lepas dari Ujan
Nasional, tetapi berhentilah untuk mengatakan “Sebentar lagi kamu Ujian nak!”.
Apakah guru bangga atau merasa telah berhasil mendidik, jika kami sekedar
berhasil mengejarkan Ujian Nasional? Apakah guru bangga, jika kami hanya bisa
mengerjakan sesuatu yang jawabanya sendiri sudah ada di buku-buku kami?
Guru ku yang tercinta, ajari kami tentang hidup ini. Ajari
kami arti “sekolah dan belajar”. Guru, jadilah sosok yang menginspirasi bagi kami, ajari kami arti
kebijaksanaan, tetapi bukan sekedar teori dan penjelasan, melainkan dengan
sikap dan perbuatan. Guru, cobalah mengerti apa kekurangan kami, cobalah
mengerti keanekaragaman kami, bahwa kami semua tidak sama, salah satu diantara
kami memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka dukung kami akan
sesuatu yang menjadi passion kami, bantu kami untuk menggapainya. Dan mohon
mengerti kekurangan kami.
Guruku yang tercinta, kalian adalah pelopor dan pelangsung
sebuah kebaikan.
Jujur saya katakan, saya ingin menjadi seorang guru.
No comments:
Post a Comment